Di sebuah Jurang, lima sosok berpakaian gelap dengan penutup wajah bergerak perlahan menuruni pinggir jurang menggunakan tali panjang.

Setelah tiba di pertengahan jurang, anehnya terdapat gua kecil yang tersembunyi. Dengan segera mereka memasuki lorong panjang yang gelap dengan merangkak.

"Apa kau yakin ini tempatnya?" tanya salah satu dari mereka, suaranya bergetar sedikit.

"Apa kau meragukan kemampuanku? Aku yakin informasi yang kudapatkan sangat tepat. Ini jalan tembusan ke tempat rahasia sekte Api Langit. Kunci itu ada di sini," jawab suara yang memimpin di depan, nada suaranya tegas.

"Jika benar benda itu ada di sini, pasti ada formasi yang menjaganya. Kita harus berhati-hati," sambung suara lain, terdengar cemas.

"Tenang saja, dengan pengalaman yang kumiliki dalam menjalankan banyak misi, hal seperti ini bukanlah masalah. Jebakan-jebakan yang mereka buat memang sangat luar biasa, tapi tetap mudah ditebak," balas suara di depan, meyakinkan teman-temannya.

Setelah merangkak cukup jauh dan semakin dalam, mereka berhasil melewati berbagai jebakan dengan aman. Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan yang lebih besar dan bersinar terang. Di ujung ruangan terlihat sebuah peti kecil di atas batu besar. Meski terlihat biasa saja, jebakan sudah disiapkan di tempat tersebut.

"Kalian tunggulah di sini. Menurut informasi, ada jebakan yang akan meruntuhkan gua ini jika kita sampai memicunya," kata pemimpin mereka, nada suaranya serius.

Dengan menggunakan tali dan pisaunya, pria itu mulai merayap di dinding, bergantung pada senjatanya dengan kekuatan fisiknya. Dalam posisi tergantung, ia menuangkan cairan ke atas peti. "Ramuan buatan Lala ini benar-benar sangat ampuh untuk menghalangi formasi aktif."

Setelah cairan tersebut dituangkan, terlihat bahwa cairan itu tidak mengenai peti, seolah ada perisai tak kasat mata yang menghalangi. Beberapa saat kemudian, cairan itu bersinar redup, menandakan efeknya mulai terlihat. Pria tersebut segera mengeluarkan perangkat lainnya yang dapat mengait dan menarik peti tersebut ke atas.

Namun, tidak lama kemudian, cairan itu mulai menguap, menandakan kemampuannya sudah hilang. Ruangan tersebut dipenuhi dengan aura berbahaya, menandakan bahwa jebakan-jebakan di sekitar peti dapat aktif kapan saja jika ada fluktuasi energi Qi.

Orang dengan tingkat kultivasi tinggi cenderung memiliki energi Qi yang lebih kuat, dan jika tidak berhati-hati, fluktuasi energi mereka dapat memicu jebakan yang ada. Ini menjadikan situasi semakin berbahaya, karena jebakan-jebakan tersebut dirancang untuk merespons energi yang terdeteksi di sekitarnya. Namun, pria itu melewati celah dinding dengan mudah, menggunakan kekuatan dan kelincahan tubuhnya, berhasil menyeberangi formasi dan mengambil peti tanpa memicunya.

Cairan yang pria ini gunakan adalah salah satu ciptaan Profesor Lala. Dalam dunianya, ia pernah mempelajari tentang medan energi untuk mengalahkan mutan. Dengan sedikit trik, Lala menciptakan cairan yang dapat menetralisir energi formasi untuk beberapa saat. Namun, cairan ini hanya bisa digunakan untuk benda yang lingkupnya tidak terlalu besar, karena membutuhkan banyak cairan dan bahan yang digunakan sulit didapatkan.

Setelah berhasil mendapatkan peti tersebut, pria itu segera kembali ke tempat teman-temannya berada.

"Cepat, kita harus segera kembali sebelum mereka menyadari keberadaan kita di tempat ini," kata pimpinan mereka dengan nada tegas.

“Kael, apakah kamu yakin surat yang dikirim bisa sampai dengan aman ke Lala? Kamu tahu sendiri banyak mata-mata musuh di kota itu saat ini,” kata pria di sebelahnya, wajahnya menunjukkan keraguan.

"Arkha, di surat itu aku sudah menuliskan sandi yang hanya Lala yang mengetahuinya. Orang biasa yang membacanya hanya akan mengetahui bahwa kita dalam bahaya dan meminta bantuan. Tapi Lala akan memahami maksud sebenarnya dari surat tersebut," jawab Kael, sambil memandang Arkha, rekan seperjuangannya.

Sejak mereka terpisah-pisah dari portal saat pindah dimensi, Kael yang lebih berpengalaman dan memiliki pemikiran yang cerdas, telah berhasil bekerja sama dengan organisasi mata-mata yang ada di benua itu. Kerjasama ini membantunya membuat kemajuan pesat dalam pencarian rekan-rekannya.

Memanfaatkan jaringan organisasi tersebut, Kael berusaha menemukan rekan-rekannya yang terpencar. Dia berhasil menemukan Lala, Narendra, Arkha, dan Karim. Namun, pencariannya tidak membuahkan hasil untuk beberapa rekan lainnya. Jelita, Leena, Rira, terutama Lynx, masih belum dapat dia temukan. Dengan penyelidikannya juga, dia mendapatkan informasi mengenai keberadaan rekan-rekan mereka suku Surya. Namun dia terlambat, ketika dia mengupayakan negosiasi agar bisa meminta pihak kerajaan menyerahkan penduduk Surya, seseorang merebutnya terlebih dahulu.

Dan dari hasil penyelidikannya itu dia mendapatkan informasi bahwa seseorang dari dimensi yang sama dengan mereka, menjadi penyebab hilangnya artefak tempat dimana para penduduk Surya disembunyikan. Dan yang membuatnya kaget, ternyata orang tersebut adalah salah satu orang kepercayaan suku Monrest yang berhasil selamat dan kabur ke dunia ini dengan membaur disaat kekacauan.

Beberapa minggu lalu, saat menyelidiki kasus pemberontakan terhadap kerajaan Qingyuan, Kael menemukan sebuah keluarga besar sedang terlibat dan dibaliknya, terdapat sekte kegelapan mendukung mereka.

Selain itu, beberapa bulan terakhir semakin banyak pihak yang mulai terlihat mengumpulkan informasi keberadaan fragment senjata iblis dan salah satunya adalah sekte kegelapan. Dan kali ini, mereka sedang mengincar kunci yang dapat membuka tempat rahasia, dimana salah satu pecahan fragmen senjata iblis disembunyikan.

***

Jelita yang mendengar Lala menyebut tentang Arkha dan Kael dalam bahaya langsung merasakan kepanikan menyelimuti hatinya. "Lala, di mana mereka? Kita harus segera menolong mereka!" suaranya bergetar, penuh kecemasan.

"Tunggu di sini, aku harus memberi instruksi kepada Han Shu," jawab Lala dengan tegas, sebelum segera melangkah pergi, meninggalkan Lynx dan Jelita untuk memberikan instruksi kepada para bawahannya.

"Lynx, kenapa kamu tidak segera bertindak? Mereka dalam bahaya!" desak Jelita, matanya berbinar penuh harap.

"Tenanglah. Lala sepertinya memiliki rencana sendiri. Kamu tahu, Lala bukan orang bodoh. Dia tahu kemampuanku, tapi sengaja tidak memintaku langsung berangkat. Justru dia memerintahkan anak buahnya yang lain," kata Lynx berusaha menenangkan. Dia memfokuskan pendengarannya untuk memperhatikan apa yang sedang dibahas oleh Lala beserta anak buahnya.

Tak lama, Lala kembali dengan wajah yang terlihat sedikit lelah dan panik.

"Lala, bagaimana? Kenapa kamu tidak memberi tahu Lynx lokasi mereka agar dia bisa segera ke sana menyelamatkan mereka?" tanya Jelita dengan nada mendesak.

Lala menatap Jelita dan Lynx, lalu tersenyum. "Sepertinya aku tidak bisa membodohimu, Lynx?"

"Membodohi? Apa maksudmu?" tanya Jelita, bingung.

"Lynx, apakah kamu memiliki kemampuan untuk menjaga agar tidak ada orang bisa mendengar percakapan kita?" tanya Lala, matanya bersinar penuh harapan.

Lynx menganggukkan kepalanya dan mulai membentuk formasi yang menghalangi suara agar tidak bisa didengar oleh pihak luar.

"Sudah. Sekarang ceritakan yang sebenarnya," tanya Lynx, suaranya tegas namun lembut.

Lala mengeluarkan kembali kertas surat yang diterimanya, kemudian mengeluarkan sebuah botol. Dengan hati-hati, dia meneteskan cairan dari botol tersebut ke atas kertas. Seketika, tulisan di kertas itu berubah.

"Apakah kamu memang sudah menduganya, Lynx?" tanya Lala, menatapnya dengan serius.

Lynx menganggukkan kepalanya. "Aku melihat simbol gambar seperti yang ada di gua. Aku ingat hanya kamu dan Kael yang memahaminya. Selain itu, aku tahu anak buahmu memantau kita sedari tadi."

"Memantau?" Jelita terlihat semakin kebingungan, matanya berkeliling mencari petunjuk.

"Kamu tahu, pengkhianatan terjadi di mana-mana, termasuk di anggotaku sendiri. Sehingga aku terpaksa harus mengeluarkan berita palsu untuk memastikan keamanan Arkha dan Kael," kata Lala menjelaskan, nada suaranya tegas namun penuh rasa tanggung jawab.

Lala melanjutkan, "Kertas ini sudah kudesain khusus hanya untuk Kael, agar jika ada orang lain yang membuka kertas yang ditujukan kepadaku, aku akan segera tahu jika ada yang sudah membacanya. Dan terbukti, aku melihat keanehan di surat yang kuterima."

Dengan fokus, Lala membaca isi surat yang sebenarnya, lalu menatap Lynx dengan serius. "Sepertinya rencana berubah. Orang yang akan kamu temui besok sebenarnya adalah mereka berdua, Arkha dan Kael."

"Arkha, Kael ?" Lynx mengulangi ucapan Lala, kebingungannya semakin dalam. "Jadi mereka? Lalu apa yang berubah?"

"Arkha dan Kael menemukan petunjuk penting, sehingga dia menunda perjalanan ke sini. Namun, dia memberi tahu bahwa Sekte Api Langit dalam bahaya. Beberapa klan rahasia menyusup ke tempat itu," kata Lala, matanya penuh kekhawatiran.

"Sekte Api Langit?" Lynx segera merasa khawatir, pikirannya melayang kepada Ling Mei yang mungkin terjebak dalam situasi berbahaya.

"Apakah mereka menceritakan bahaya apa di Sekte Api Langit?" tanya Lynx, nada suaranya penuh kecemasan.

